PENDAHULUAN
Bangsa Arab pada awalnya merupakan bangsa yang memiliki keahlian dalam menggunakan dua bahasa sekaligus, yakni bahasa fasih dan bahasa dialek. Saat sedang bersantai dengan keluarga misalnya, mereka menggunakan bahasa dialek. Namun apabila pada saat yang lain mereka harus menggunakan bahasa fasih, mereka pun sanggup melakukannya secara sempurna. Al-Qur’an dan sabda Nabi juga disampaikan dalam bahasa Arab yang fasih.
Setelah Islam berhasil melakukan futuh ke berbagai negeri ajam (non Arab), bangsa Arab mau tidak mau harus bergumul dengan bangsa-bangsa yang tidak berbahasa Arab tersebut. Akibat perkumulan yang berlangsung secara intens dan dalam waktu lama, bahasa Arab mulai terpengaruh oleh bahasa-bahasa lain. Orang-orang non Arab berusaha untuk berbicara dalam bahasa Arab namun mereka melakukan banyak kekeliruan. Orang Arab sendiri sedemikian toleran atas berbagai kekeliruan berbahasa Arab, baik yang dilakukan oleh orang non Arab maupun oleh orang Arab yang baru belajar berbahasa. Saat itu, kesalahan bukan hanya dilakukan oleh orang awam namun juga oleh orang-orang terpelajar dan para sastrawan. Dikisahkan, bahkan Al-Hajjaj, seorang yang sangat mahir berbahasa, juga sempat melakukan kesalahan. Banyaknya kesalahan, terutama dalam mengucapkan ayat-ayat Al-Qur’an, telah mendorong sebagian orang yang mahir berbahasa untuk menyusun kaidah-kaidah bahasa, yang pada kemudian hari dikenal sebagi ilmu nahwu.
Bahasa Arab adalah bahasa yang terjaya dari bahasa-bahasa lainnya, terbanyak
pramasastranya, hingga ia dapat melayani kemajuan-kemajuan ilmu pengetahuan disegala bidang. Untuk mengetahui seluk beluk bahasa Arab yang masyhur itu lebih jauh dan untuk menilai keindahan kalimat baik prosa maupun puisi, maka di kenal sebagai ilmu balaghah.
SEBAB-SEBAB MUNCULNYA ILMU BAHASA ARAB: ILMU NAHWU DAN ILMU BALAGHAH
1. Ilmu Nahwu
Ilmu nahwu merupakan bagian dari ilmu bahasa secara umum. Secara keseluruhan, ilmu bahasa meliputi ilmu nahwu, ilmu sharf, ilmu pelafalan, dan ilmu semantik. Ilmu sharf berbicara tentang aturan pembentukan kata (البنية والصيغة). Ia mempelajari timbangan-timbangan kata (wazan) berikut indikasinya, serta bentuk-bentuk perubahan yang sangat beragam seperti penghapusan (الحذف), penambahan (الزيادة), perentangan (التطويل), pemendekan (التقصير), peleburan (الادغام), pembalikan (القلب), penggantian (الابدال), pencacatan (الاعلال), serta keadaan saat terus (الوصل) dan saat berhenti (الوقف). Dengan kata lain, kata kunci dalam ilmu sharf ialah kata (الكلمة). Adapun kata kunci dalam ilmu pelafalan ialah suara (الصوت). Sementara, ilmu semantik menitikberatkan kajiannya pada aspek makna dan penunjukan makna. Titik berat pada aspek makna berarti bahwa disana akan dipelajari tentang makna leksikon dari suatu kata (= المعني المعجمي المعني القاموسي), makna kontekstualnya (المعني السياقي), makna individual, makna sosial, dan sebagainya. Titik berat pada penunjukan makna berarti bahwa disana akan dipelajari tentang perkembangan makna suatu kata, yang dipengaruhi oleh banyak variabel seperti individu, sosial, kebudayaan, militer, politik, peradaban, dan lain-lain.
Adapun ilmu nahwu, kata kuncinya ialah kalimat (الجملة). Ia secara khusus berbicara tentang jabatan tiap elemen kalimat dan secara umum berbicara tentang aturan mengenai hubungan antar elemen tersebut. Demikianlah, ilmu nahwu telah digunakan untuk menganalisis secara sintaktik bagian-bagian sebuah kalimat serta hubungan antar bagian-bagian tersebut dalam apa yang dalam tradisi klasik kita sebut sebagai hubungan penyandaran (الاسناد). Jadi ilmu nahwu tidaklah hanya berbicar tentang harakat di akhir kata serta i’rabnya, namun ia juga mengatur tentang bagaimana cara yang baik dalam menyusun dan merangkai kalimat.
Semua cabang ilmu bahasa diatas saling melengkapi satu sama lain. Ilmu-ilmu tersebut dibeda-bedakan hanyalah untuk kemudahan mempelajarinya saja. Kita tidak bisa mengkaji bahasa secara sempurna dengan hanya menggunakan salah satu atau sebagian ilmu-ilmu tersebut dan meninggalkan ilmu yang lain.
PERKEMBANGAN ILMU NAHWU DARI MASA KE MASA
Perkembangan ilmu nahwu dapat diruntut menjadi tiga periode:
1. Periode Perintisan dan Penumbuhan (Periode Bashrah)
Perkembangan pada periode ini berpusat di Bashrah, dimulai sejak zaman Abul Aswad sampai munculnya Al-Khalil bin Ahmad, yakni sampai akhir abad kesatu Hijriyah. Periode ini masih bisa dibedakan atas dua sub periode, yaitu masa kepeloporan dan masa pengembangan. Masa kepeloporan tidak sampai memasuki masa Daulah Abbasiyah. Ciri-cirinya ialah belum munculnya metode qiyas (analogi), belum munculnya perbedaan pendapat, dan masih minimnya usaha kodifikasi. Adapun ciri-ciri masa pengembangan ialah makin banyaknya pakar, pembahasan tema-temanya semakin luas, mulai munculnya perbedaan pendapat, mulai dipakainya argumen dalam menjelaskan kaidah dan hukum bahasa, dan mulai dipakainya metode analogi.
2. Periode Ekstensifikasi (Periode Bashrah-Kufah)
Periode ini merupakan masa ketiga bagi Bashrah dan masa pertama bagi Kufah. Hal ini tidak terlalu mengherankan, sebab kota Bashrah memang lebih dulu dibangun daripada kota Kufah. Pada masa ini, Bashrah telah mendapatkan rivalnya. Terjadi perdebatan yang ramai antara Bashrah dan Kufah yang senantiasa berlanjut sampai menghasilkan apa yang disebut sebagai Aliran Bashrah dengan panglima besarnya Imam Sibawaih dan Aliran Kufah dengan panglima besarnya Imam Al-Kisa’i. Pada masa ini, ilmu nahwu menjadi sedemikian luas sampai membahas tema-tema yang saat ini kita kenal sebagai ilmu sharf.
3. Periode Penyempurnaan dan Tarjih (Periode Baghdad)
Di akhir periode ekstensifikasi, Imam Al-Ru’asi (dari Kufah) telah meletakkan dasar-dasar ilmu sharf. Selanjutnya pada periode penyempurnaan, ilmu sharf dikembangkan secara progresif oleh Imam Al-Mazini. Implikasinya, semenjak masa ini ilmu sharf dipelajari secara terpisah dari ilmu nahwu, sampai saat ini. Masa ini diawali dengan hijrahnya para pakar Bashrah dan Kufah menuju kota baru Baghdad. Meskipun telah berhijrah, pada awalnya mereka masih membawa fanatisme alirannya masing-masing. Namun lambat laun, mereka mulai berusaha mengkompromikan antara Kufah dan Bashrah, sehingga memunculkan aliran baru yang disebut sebagai Aliran Baghdad. Pada masa ini, prinsip-prinsip ilmu nahwu telah mencapai kesempurnaan. Aliran Baghdad mencapai keemasannya pada awal abad keempat Hijriyah. Masa ini berakhir pada kira-kira pertengahan abad keempat Hijriyah. Para ahli nahwu yang hidup sampai masa ini disebut sebagai ahli nahwu klasik.
Setelah tiga periode diatas, ilmu nahwu juga berkembang di Andalusia (Spanyol), lalu di Mesir, dan akhirnya di Syam. Demikian seterusnya sampai ke zaman kita saat ini.
2. Ilmu Balaghah
Pengetian Ilmu Balaghah
Untuk lebih mengetahui tentang ilmu Balaghah, maka hendaklah diketahui pengertian dari Balaghah. Meskipun pengertian singkat dari komponen ilmu balaghah itu secara singkat dipandang perlu pula untuk mengetengahkan uraian tentang iImu balaghah agar tampak jelas keurgensian (keberadaan) ilmu Balaghah tersebut.
Adapun pengertian dari segi etimologi adalah sampai atau berkesudahan atau sampai. Menurut pengertian dari sisi kesusastraan ialah "Penonjokan makna dan pengertian kalimat yang jelas, sampai tertanam pada hati pembaca dan pendengarnya (diungkapkan oleh Syaid Ahrnad Aal-Hasymy). Al-Mukaffa menyatakan bahwa Balaghah adalah beberapa makan yang terpancar dari suatu kalimat melalui beberapa macam, sebagian dengan isayarat , berbicara, berpidato, diskusi, surat-menyurat, karangan yang umumnya merupakan "wahyu" pada kalimat indah, ringkas tepat dan lugas. Jika kita perhatikan dari keterangan-keterangan fakar ilmu balaghah dari beberapa regenerasi dapat disimpulkan bahwa :
llmu Balaghah adalah ilmu yang mengungkapkan metode untuk mengungkapkan bahasa yang indah, mempunyai nilai estetis (keindahan seni), memberikan makna sesuai dengan muktadhal hat (situasi dan kondisi), serta memberikan kesan sangat mendalam bagi pendengar dan pembacanya. Ungkapan yang mempunyai nilai sastra tinggi telah lama dimiliki oleh orang orang Arab, babkan sebelum tersebarnya agama Islam, tidak mengherankan dari keindahan bahasa membuat mereka terkesima mendengarkan ayat-ayat suci AI-Quran dan bahasa Hadist. Alam tarakaifa dharaba L-Lahu masalan kalimatin Thayyibatin kasyajaratin ashluha a-sabitun wa far'uha fi s-sa,a'I (Apakah engkau tidak melihat Allah memberikan suatu perumpamaan dengan kalimat yang baik seperti sebatang pohon yang baik akarnya kokoh dan cabangnya menjulang kelangit).
lnilah suatu ayat yang menyatakan kebaradaan dari keindahan dari suatu bahasa. Bila dipandang dari peristilahan linguistik ilmu balaghah ini disebut Ilmu Sematik bahasa Arab. Penamaan sebagai ilmu semantik ini adalah merupakan suatu peristilahan setelah meneliti dan membandingkan disiplin ilmu semantik dan ruang lingkup bahasanya dari segi semantik bahasa Indonesia. Namun jika diperhatikan dari pendapat para fakar yang lebih dominan menyatakan balaghah sebagai bagian dari pembahasan sastra, mereka juga mempunyai alasan yaitu yang diulas dalam balaghah adalah kebanyakan hasil karya sastra atau bahasa yang mengandung nilai-nilai sastra tinggi (bahasa al-Quran dan Hadist).
Pembabagian llmu Balaghah
Ilmu balaghah sebagaimana diketahui terdiri dari bahagian yaitu : ilmu Bayan, Ilmu
Ma'ani dan ilmu Badi'. Untuk lebih jelasnya pembahagian dari ilmu Balaghah ini akan dijelaskan dalam sub-sub pembahasan ini.
1. Ilmu Bayan
Ilmu Bayan adalah ilmu yang menjelaskan seluk beluk bahasa Arab dimulai darimengetahui uslub (ragam bahasa) puisi dan prosa.Pembagian ilmu Bayan meliputi : Tasybih, rukun tasbih. Pembahagian Tasybih dan kegunaan ungkapan Tasybih.Balaghah dan pengaruhnya bagi orang Arab dan bahasa Arab bagi para pembicara danlawan bicara Pembahasan tentang Majaz serta pembahagiannya Isti'ara (kata pinjaman) beserta pembahagiannya. Kinayah dan pembahagiannya. Keterangan ringkas mengenai pembahasan ilmu Bayan :
a. Tasybih
Jika dilihat dari asal kata, tasybih berasal dari kata 9ÈÔ/Syabbaha, mengingat masamuda, mensifatkan kecantikan gadis. (Muhammad Yunus, 1973:188). Dari segi ilmu Balaghah adalah menyempakan sesuatu kepada sesuatu yang lain dalam bahasa arab disebut : Itu ditujukan supaya dapat menggambarkan hal rang tersembunyi, hal yang jauh, dan yang dekat, menambah ketinggian derajat, memuji keindahan, kelebihan seseorang atau kelompok, sehingga menyentuh perasaan orang. Arkanutasybih yaitu:
Musyabbah : yaitu suatu yang dipersamakan
Musyabbah bih : yaitu yang diumpamakan
Adat Tasybih : yaitu lapaz yang dipergunakan untuk membuat suatu perumpamaan
Wajah syabah : suatu sisi yang dipersamakan.
Al-'Ilmu ka n-nuri fi' l-hidayati
Musyabbah : Musyabbah bih : Adat tasybih : Wajah Syabah :
Dilihat dari struktur arkanut – tasybih : Wajah Syabah :
1. Tasybih Mursal
Musyabah : musyabah bih : Adat tasybih : Wajah Syabah
2. Muakkad
Muasyabbah : musyabah bih : Adat tasybih : Wajah Syabah
3. Mujmal
Musyabbah : musyabah bih : Adat tasybih : Wajah Syabah
4. Mufassal
Musyabah : musyawarah bih : Adat tasybih : Wajah Syabah
5. Baligh
Musaybbah : musyabah bih : Adat tasybih : Wajah Syabah
6. Tamtsil (wajah syabah bersjfat majemuk serta memerlukan pemikiran dan
Hayalan :
Musyabbah: musyabah bili: Adat tasybili: Wajah Syabah
7. Ghairu t-tamtsil (wajah syabah yang lugas, tidak memerlukan banyak hayalan dan
Penafasiran).
Musyabbah: musyabah bili: Adat tasybili: Wajah Syabah
Tasybih jika dilihat dari sudut linguistik dapat dipadankan dengan istilah gaya bahasa
Metafora.
b. Majaz
Majaz juga dikenal dalam bahasa Indonesia yang berarti makna kiasan atau figuratif meaning (pemakian kata – kata yang bukan pada arti yang sebenarnya). Contoh:
Artinya : seorang pemberani berpidato di depan kita Ditinjau dari padanan peristilahan semantik bahasa Indonesia majaz ini termasuk gaya bahsa Hiperbola dalam kelompok gaya bahsa pertentangan.
c. Isti’arah
Ist’arah merupakan kata pinjaman yaitu penggunaan kata dengan tujuan memperkuat makna yang terkandungdalam kata tersebut (makna tersirat) (Hasymy 303). Isti’arah terbagi dua :
a. Tasyrihiyah : dipadankan dengan anti klimaks yakni penitik makna pada lapaz
musyabbah bih.
Contoh : Kitabun anzalnahu ilayka li tu hkrija n-nasu mina z-zulumati ila n-nuri
Kitab (AI-Qur'an) ini diturunkan adalah untuk mengeluarkan manusia dari kegelapan kepada bahaya.
b. Makniyah: Dari peristilahan semantik indonesia di sebut gaya bahasa klimaks, pada isti'arah makniyah ini lafaz musyabbah bih dibuang dan digantikan dengan kata yang lazin dipergunakan sebagai rangkaian kata tadi.
Contoh :Inni la ara ra'usan qad ainaat wa hana qitafuha wa ini lashabuha. (Aku telah melihat kepala-kepala yang siap dipetik akulah empunyanya).
d.Kinayah
Kinayah (gaya bahasa Antonomasia) adalah gaya bahasa yang mengandung makna kiasan dan sindiran. Kinayah ini dibagi kepada dua bahagian yakni :
1. Kinayah Sifat : suatu sindiran yang ditujukan untuk menyatakan sifat seseorang.
Contoh : Thawilu n-najadi rafi'u l-imadi kastiru r-ramadi iza ma syata (Banyak pertolongan ringan pekerjaan banyak api unggun di musim dingin). Tujuan sindiran ini menyatakan sifat tolong menolong itu diperlukan di setiap keadaan.
2. Kinayah Mausuf sindiran yang ditujukan kepada seseorang
Contoh :Qara' a fulanun sinnuhu (Sipulan telah menggerakan giginya, sindiran kepada seseorang yang sudah benar-benar
Marah).
Ilmu Ma'ani
ilmu ma' ani adalah ilmu untuk mengetahui kejelasan ucapan Arab sesuai dengan situasikondosinya (amin Hakri 1979:53). Ilmu Ma'ani merupakan pengetahuan untuk menentukan beberapa kaedah untuk pemakaian kata sesuai muqtadal hal. Jelasnya Ilmu Ma'ani itu adalah suatu peraturan tentang pemberian makna yang tepat sesuai dengan redaksi kalimat. Dalam kelompok ilmu Ma' ani ini akan dibahas mengenai :Kalam khabari dan insya, Zikru dan Hazfu, Taqdim dan ta'hir, Qashar, Washal dan fashal dan Ijaz dan Musawah. Untuk mempermudah pemahaman pembaca pemula maka akan dijelaskan di sini tentang kalam khabari dan insya'i. Menceritakan tentang kalam tidak dapat terlepas dari Musnad dan Musnad ilyhi juga
Mutakallim, mukhatab dan kalam itu sendiri (isi dan manfaat kalam) Kalam khabari yaitu kalam (kalimat ) yang mengandung pengertian (arti) benar atau dusta sedangkan kalam insya'I suatu kalimat yang tidak mengandung pengertian benar dan dusta. Setiap kalam baik berbentuk khabari atau insyai mempunyai dua rukun (komponen) yakni Mahkum Alayhi dan Mabkum bib, disebut juga dengan Musnad ilayhi dan musnad .
Contoh: yabunayya ta'allam husna l-istima'l kama tatallam husna l-hadis (hai anakku perhatikanlah pelajaranmu sebagaimana engkau mempelajari kata-kata yang baik).
Contoh 2: Nukilan sajak Abu Nawas (penyair seribu satu malam) : 'Ar- rizqu wa l-hirmanu majrahuma bima qadha L-Lahu wa ma Qaddaral (Rezki dan kehormatan
itu sama-sama dilimpahkan sesuai dengan ketentuan Allah dan sesuai dengan ukurannya). Penganalisaan dari kedua contoh diatas sebagai berikut :
Jumlah (kalimat) : jenis : Musnad ilayhi : Musnad
dari segi bahasa Indonesia, Musnad ilayhi ini bisa disebut subjek dan musnad adalah predikat.
a. Kalam Khabari
Kelompok kalam khabari, yang lebih dekat pengertiannya adalah kalimat yang mengandung makna berita. Berita yang diungkapkan oleh si pembicara mempunyai tujuan tertentu demikian pula bagi sipendengar/pembaca berita. Fakar ilmu balaghah menentukan keadaan ini dan menamakan pokok bahasan tentang Al-ghardu mill ilqai I-hkabari.
Tujuan dari ungkapan dari berita, Hal ini dibagi menjadi dua kategori yaitu :
1. Bila kalimat tersebut sudah sama-sama diketahui oleh si pembicara dan dipendengar (pembaca) maka kaliInat khabari itu disebut Lazim Fa' i dah/
2. Bila kalimat itu sebelum diketahui oleh sipendengar/pembaca atau offing ke dua maka disebut Selanjutnya khabari inipun dilihat dari kegunaannya sesuai dengan konteks kalimat serta situasi dan kondisi kalimat itu disampaikan atau al-ghardhu tufhamu mill siyaqi l-kalam. Dilihat dari konteks klaimatnya ini hkabari dibagi kepada:
1. /istirhamu/penghormatan
2. / Izharu tahassuri/ keluhan
3. /Izharu dha-dha'fi/mengungkapkan kelemahan
4. /al-fihkri/Bangga
5. / Al-Hassu ‘ala s-sa'yi wa I-jiddi /Memotivasi untuk menimbulkan semangat dan kesungguhan. (contoh dari masing-masing hal ini dapat diperhatikan dalam buku Al-Balaghatu l-wadhihah 144-147, Mustafa amin, tanpa tahun) khabari ditinjau dari kepentingan si lawan bicara terbagi kepada tiga bahagian yaitu :
1. Bila orang kedua sama sekali belum mengetahui barita, maka khabar tidak perlu
mengunakan huruf tawkid (tanda penguat berita). Disebut khabar Ibtida'i.
2. Bila orang ke dua ragu akan berita yang disampaikan padahal dia belum mengetahuinya maka dikemukakan kbahar dengan penambahan huruf taukid (tanda penguat).
3. Bila orang kedua tetap tidak percaya (munkir) atas berita yang disampaikan meskipun ada dalil yang telah ditentukan, maka wajib diberikan huruf taukid, satu taukid atau lebih. Konteks ini disebut khabar Inkari. Huruf-huruf taukid (ada waktu -t-taukidi) sebagai berikut ini : Inna, anna, waw qasam, lam ibtida', nun taukid, ahrufu t-tanbih, hurufu z-zaidah, qad, amma syarthiyah.
b. Kalam Khabar huruju an muqthada -zahir
Kalam khabari khuruju an muqthada z-zahir adalah kalam khabari yang keluar dari konteks semula, pada kaidah ilmu balaghah dibagi kepada tiga bahagian yaitu:
1. Khabar yang diungkapkan tanpa buruf taukid tetapi lawan bicara masih terus bertanya dan ragu atas berita yang diceritakan hal ini menyalahi konteks berita biasa disebabkan lawan bicara khuruju an muqthada z-zahir. Lawan bicara dalam hal ini dianggap sebagi orang yang tidak ingkar.
2. Khabar yang diberikan tanpa huruf taukid, tetapi lawan bicara tidak lagi bertanya. Disini ia digolongkan sebagai orang yang inkar.
3. Khabar yang dikemukakan tanpa huruf taukid, disini pembicara menempatkan lawan bicaranya sebagai seorang yang tidak mungkar, dengan tujuan untuk menjinakkan hati lawan bicaranya. Ini kerap kali digunakan dalam berpolitik (Ali Jarim tanpa tahun. Hal 165).
c. Kalam lnsya'I
Kalam insya'I terbagi kepada dua kelompok yaitu:
Insya' Thalaby dan insya' Gbayru Thalaby.
lnsya' Thalaby : yaitu menuntut sesuatu yang tidak berhasil pada waktu
kata - kata itu diungkapkan yakni bentuk amar, Nahyi, Tamanny dan Nida'i.
lnsya' Gbayru Thalaby : yaitu tidak ada tuntutan sesuatu terdiri dari bentuk,
Ta'ajjub, Madah , Zam, Qasam Af'alu, r-raja dan bentuk-bentuk lain selain insya' thalaby. Untuk melihat keterkaitan ilmu Balaghah dengan tata bahasa Arab maka penulis hanya menerangkan tentang beberapa sisi dari Insya' Thalaby saja.
c. 1. Pembagian Insya' Thalaby Amar
Adapun Qaidah Amar yaitu menuntut suatu pekerjaan dari orang rang lebih tinggi (kedudukan atau umur). Bentuk Amar dalam balaghah sama dengan bentuk amar dalam tata bahasa Arab.
Fakar-fakar ilmu balaghah menyebutkan :"Bentuk Amar ada empat : Fi'il Amar, Mudhari' yang diketahui oleh Ei'lam Amar, Ism Fi'il amar, Masdar sebagai ganti dari Fi'il Amar. Selain makna perintah dari segi balaghah Amar mempunyai makna lain yakni apabila diteliti dari konteks kalimat (siyaqul kalam) mendatangkan makna sebagai berikut:
/Irsyad/' memberi petunjuk'
/ Do'a/Do’a
/lltimas/menyuruh orang sebaya'
/amanny/'bercita-cita'
/Takhyir/'memilih'
/Taswiyah/'Mempersamakan'
/ Ta'jizl' Melemahkan'
/Tahdid/Ancaman'
/bahah/’ membolehkan'
contoh Amar :
1. Amma ba'du fa aqin linasi l-hajji/' Seteleh itu maka peritahkanlah hajji kepada manusia' .
2. I... Wa l-yatawaffu bi l-bayti l...'atiq/' dan tawaflah kamudi rumah suci'
3. I' Alaykum andusakum la yadhurrukum man dhalla iza h-tadaytum/'
Perliharalah dirimu janganlah membuat dirimu mudharat dengan kesesatan setelah engkau memperoleh petunjuk.
4. /Wa bi l-walidayni ihsanan/ ' Berbuat baiklan kepada kedua orang tuamu'
- Nahyi
Nahyi adalah menurut memberhentikan perbuatan dari orang yang lebih tinggi. Bentuk bahyi berasal dari fi'il mudhari' didahului oleh la nahiyyah.
Contoh :
/Wa La taqrabu mala l-yatimi ilia billati hiya ahsanu/ Dan janganlah kamu mendekati harta anak yatim kecuali untuk kebaikan.
Ahli ilmu Balaghah mengkategorikan arti nahyi dilihat dari (Siyaqu l-kalam kepada :
/ Do'a/Doa'
/ lltimas/ melarang orang sebaya'
/ Tamanny/'Cita-cita'
/ Taubih/'Menjelaskan'
/ Tay'is/Menyesal'
/ Tahdid/' Ancaman'
/ Tahqir/'Hinaan'
Menganalisis analisis makna Nahyi dri konteks kalimat itu memerlukan perhatian yang jeli, sehingga nampak keistimewaan artinya. Ini merupakan hal yang penting bagi penterjemah, sehingga terjemahan tidak terjebak pada kesalahan arti, terutama sekali bagi penterjemahan ayat-ayat Al Quran dan Hadist Rasul.
- Istifham
Istilah adalah bentuk kalimat rang dipergunakan untuk mendaptkan informasi yang jelas tentang sesuatu masalah, yang belum diketahui sebelumnya.
Cara pembentukan Istifham adalah dengan mempergunakan ada watu istifham.
Adawa tu l-istifham adalah :
äã/min/’dari/,áÍ/hal/’adalah’, ../kam/’berapa,../ma/’apa’, Ê .. /mata/’bila Ã/’a/’apa, ÊÃ/anna/’bagaimana, äí Ã/aina/’dimana’,íÇ /ay/’apa’/ÂäÂí ./ayyana/’bagaimana, kapan’.
- Tamanny
Tamanny adalah menuntut sesuatu urusan rang sangat disukai tetap adakalanya hal yang mustahil tercapai dapat juga disebut sebagai angan-angan. Tamanny ini dibentuk dengan menggunakan huruf tamanny : áÍ/hal/’, Êíá/layta/’sekiranya’,æá/lau/ ‘kalu sekiranya’, .../la’alla/’mudah-mudahan’
Contoh Istifbam :
1. 'fa hat Lana min sufa'a u fa yasfa'u lana/ .
'Masih adakah yang mau menolong kami, maka berilah pertolongan kepaa kami'
2. flaw La kana 'indi shadiqin yaji'u bi khamsati atafin rubiyyatin/
kalau ada temanku yang memberikan aku lima ribu rupiah saja'
3. /Layta s-sabab ya'udu ghadan/
"Semoga masa muda dapat terulang besok"
- An-nida
An-nida adalah panggilan kepada seseorang pada mulanya annida' ini ditujukan hanya untuk memanggil seseorang saja, namun pada tahapan selanjutnya An- nida' ini ditujukan pula untuk menyeru ;
An-nida' (seruan) menggunakan huruf Nida' yaitu: ./hamzah/’hai', íÂ/ay/'hai' ,mari, ../ya/'hai,mari, í/ya /æ/wa/ í./ayya/.. ../hayya/. Semua ini
digunakan untuk menyeru orang yang dekat. Ã/hamzah, digunakan untuk menyeru orang yang dekat íÃ/Ay/menyeru kepada yang dekat dihati dan selalu hadir dalam benaknya. Adakalanya diperuntukkan íÃ/ /Ay/ dan Ã/hamzah/untuk memanggil orang yang tinggi martabatnya, dengan penuh kesopanan. ../ya/digunakan untuk yang dekat meskipun tidak nampak, atau pada tempat yang jauh.
Contoh: ÈÑ ../Ya rabbi/'Ya Tuhanku.
KEBERADAAN ILMU BALAGHAH SEBAGAI CABANG ILMU BAHASA
Ilmu Balaghah yang sekilas berbeda dengan ilmu-ilmu babasa yang lain seperti ilmu Nahwu dan Sarf, Qira'ah dan muthala'ah, berbeda dengan Dirasatu 1-mu'jamiyah dan ilmu asashaut, namun bila dianalisis secara seksama maka dapat diperincikan keterangan mengenai keterkaitan ilmu Al-Balaghah dengan ilmu-ilmu bahasa yang lain. Keberadaan ilmu Balaghah sebagai salah satu dari cabang ilmu bahasa akan tampak jelas jika diperbandingkan antara ilmu-ilmu tersebut. Keberadaan ilmu Balaghah sebagai ilmu Bahasa Arab tahapan awal terlihat pada kelompok llmu Bayan. Dalam ilmu Bayan terdapat kalam (kalimat yang sempurna) yang terdapat juga dalam ilmu Nahwu yang disebut dengan al-jumlatu I-mufidatu (kalimat yang sempurna).
KESIMPULAN
llmu balaghah yang semula oleh sementara orang dikategorikan kepada ilmu sastra, tetapi ilmu balaghah itu adalah sintaksis Arab. Sebagai ilmu semantik tentu ia berkaitan erat dengan ilmu Sintaksis ilmu Nahwu dan ilmu sarf. Keberadaan ilmu balaghah sebagai ilmu bahasa Arab akan terlihat dengan jelas jika dipergunakan kaca mata balaghah, dengan demikian akan mudah pula untuk mengerti pesan yang terkandung dalam serangkaian kalimat, baik berbentuk sastra ataupun yang bukan sastra.
Saran
Setiap orang akan merasa kesukaran apabila menggunakan bahasa yang bukan bahasa ibunya. Kendala untuk mengerti ilmu Balaghah atau bahasan mengenai sastra akan lebih sulit dimengerti apabila tidak mempunyai dasar pengetahuan awal. Kami pemakalh menyarankan agar setiap mahasiswa mempelajari tentang ilmu nahwu dan Morfologi Arab dengan baik agar lebih mudah menyerap, terutama ilmu balaghah yang dianggap sulit itu akan lenyap sendiri.
DAFTAR PUSTAKA
Abu Zayid Zayad, Abdu al-Roziy, Siria 1992. Tatawuru Mafhum Al-Balaghah.
AminAhmad. Fairu I-Islam. Kairo, 1955
Ash-shabuny, Muhammad Ali. Rawai'I-Bayani Tafsiru I-ayati I-ahkami mina I-Ourani. MakkahAl-Mukarramah, 1979
Ash-shabuny, Muhammad Ali. 'Ijazu l-Bayani fi suwari I-Qurani. Maktabah Al-Ghazali Makkah,1979.
Al- Hasyimi, Saleh Muhammad AI-Balaghahtu, l-wadhihatu King Ibnu Suud Riyadh, 1987.
Basyir Hasan Kamal, DR Binau s-surati I-fanniyah fibayani I-arabi. Damaskus Bairut. 1987.
Jama' Syari, Balaghah. Bairot. Tanpa Tahun.
George. M. Abdul Masih. Dictionarv of Arabic Grammar Libanon. 1985.
Ridwan Muhammad Mustafa, dkk. At-tamhidu fi n-nahwi wa s-sarfi. Jami'ah kari YunusLibanon, 1973.
Said Fuad. Pengantar Sastra Arab. Pustaka Babussalam Medan, 1984.
Siregar Said Ahmad. Fakultas Sastra USU. Sejarah Study Bahasa Indonesia. Fakultas Sastra USU 1982.
Watt Mentegomerry. Kejavaan Islam. Tiara Wacana Yogya 1990.
Rabu, 26 November 2008
Langganan:
Postingan (Atom)